Hilang yang Membayang
Aneh rasa yang menghantui
Kata perpisahan selalu menakuti di setiap detik langkahku
Sebenarnya...
Sepenuhnya aku mengerti
Pertemuan dan perkenalan adalah gerbang-gerbang menuju perpisahan
Dimana setiap yang berawal pasti akan berakhir
Setiap perpisahan yang telah aku alami
Menorehkan luka dalam yang begitu membekas
Bahkan semanis, sehalus, dan selembut apapun
Perpisahan yang mereka telah cipta
Untuk mengakhiri kisah yang dibuatnya
Yang mereka anggap telah menemui akhir ceritanya
Tetap saja hal itu sangat melukaiku
Saat dia sepenuhnya menyayangiku
Dan akupun sangat menyayanginya
Ku pikir kebersamaan akan selamanya milik kami
Dengan saling menyayangi...
Aku bisa mendapatkan senyum manisnya...
Canda tawanya...
Kata hatinya...
Tapi ternyata,
Ada satu hal yang takkan pernah bisa ku milikki
Yaitu jalan hidupnya
Kepergiannya,..
Kepergian yang untuk kembali kepadaNya
Menciptakan kehilangan yang tak terperi bagi hatiku.
Maafkan aku...
Aku belum bisa membahagiakanmu.....
JikA iNdAh sAtU pErTeMuAn jgN AkHiri dgN pErPiSaHaN,jikA sUCi sAtU pErKeNaLaN JgN cEmAri dgN pEnDuStAan,jikA bErNilAi SeBuAh PeRhUbUnGaN,hArgAiLah iA dgN kEikhLAsaN...
Sabtu, 18 Juli 2009
KESEHATAN
Obat Kanker Warisan Kedokteran Islam
Ramuan Hindibia yang ditemukan al-Baitar itu mengandung zat antikanker yang juga bisa menyembuhkan tumor dan gangguan neoplastic.
Kanker merupakan penyakit mematikan yang ditakuti umat manusia. Badan kesehatan dunia, WHO memperkirakan pada 2010, kanker akan menjadi penyakit penyebab kematian nomor wahid di dunia mengalahkan serangan jantung. Menurut prediksi WHO, pada 2030, akan ada 75 juta orang yang terkena kanker di seluruh dunia.
Sejatinya, kanker bukanlah penyakit baru. Di era kejayaan peradaban Islam, para dokter Muslim telah mampu mendiagnosis dan mengobati penyakit kanker. Tak hanya itu, dokter Muslim, seperti Ibnu Sina dan al-Baitar pun telah menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit yang mematikan itu.
Adalah al-Baitar, seorang ilmuwan Muslim abad ke-12 M yang berhasil menemukan ramuan herbal untuk meng obati kanker bernama Hindiba. Ramuan Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu mengandung zat antikanker yang juga bisa menyembuhkan tumor dan ganguan-gangguan neoplastic.
Kepala Departemen Sejarah dan Etika, Universitas Istanbul, Turki, Prof Nil Sari dalam karyanya Hindiba: A Drug for Cancer Treatment in Muslim Heritage, telah membuktikan khasiat dan kebenaran ramuan herbal Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu. Ia dan sejumlah dokter lainnya telah melakukan pengujian secara ilmiah dan bahkan telah mempatenkan Hindiba yang ditemukan al-Baitar.
Menurut Prof Nil Sari, Hindiba telah dikenal para ahli pengobatan (pharmacologis) Muslim, serta herbalis di dunia Islam. Umat Muslim telah menggunakan ramuan untuk menyembuhkan kanker jauh sebelum dokter di dunia Barat menemukannya, ungkap Prof Nil Sari.
Setelah melakukan pengujian secara ilmiah, Prof Nil Sari menyimpulkan bahwa, Hindiba memiliki kekuatan untuk mengobati berbagai penyakit. Hindiba dapat membersihkan hambatan yang terdapat pada saluran-saluran kecil di dalam tubuh, khususnya dalam sistem pencernaan. Tapi domain yang paling spektakuler adalah kekuatannya yang dapat menyembuhkan tumor ungkapnya.
Untuk melacak khasiat dan ramuan Hindiba, Prof Nil Sari pun melakukan penelitian terhadap literatur pengobatan masa lalu. Ia melacak dua masterpiece ilmuwan Muslim, yakni Ibnu Sina lewat Canon of Medicine serta ensiklopedia tanaman yang ditulis al-Baitar.
Ketika kami melihat teks lama secara lebih dekat, kami melihat adanya kebenaran yang sedikit sekali kami ketahui tentang ramuan tanaman (herbal) di masa lalu,ungkapnya. Dalam teks peninggalan kejayaan Islam itu dijelaskan bahwa Hindiba dan berbagai jenis herbal lainnya dibagi menjadi dua kelompok utama, yakni herbal yang diolah dan herbal yang tak diolah.
Menurut teks pengobatan kuno, keampuhan pengobatan kanker dengan menggunakan Hindiba didasarkan atas pertimbangan teoritis pengobatan, yakni efek obat-obatan medis beroperasi sesuai dengan sifat dari konstituen. Menurut Prof Nil, konstituen yang dihasilkan dari dekomposisi akan memiliki efek yang disebut energi. Potensi kualitas panas dan dingin dalam sifat obat akan keluar sebagai hasil dekomposisi dalam tubuh.
Komponen aktif komponen alami yang panas akan segera bereaksi. Akan tersebar melalui jaringan secara efektif. Konstituen panas bereaksi sebelum konstituen dingin dan membersihkan hambatan dalam saluransaluran kecil pada bagian tubuh dan memperlancar penyebaran konstituen dingin. Kemudian, unsur dingin itu datang dan mulai berfungsi menjalankan fungsinya.
Dalam risalah kedokteran berbahasa Arab, peninggalan era keemasan Islam, disebutkan bahwa semua jenis pembengkakan seperti kutil atau benjolan telah menyebabkan gangguan pada saluran. Sedangkan kanker digambarkan sebagai massa yang keras. Diidentifikasi sebagai pembengkakan yang keras, kanker berkembang dari kecil kemudian menjadi besar ditambah dengan rasa sakit.
Mengutip catatan Ibnu Sina dalam Canon of Medicine, Prof Nil Sari mengungkapkan, tumor atau kanker, bila di biarkan akan semakin bertambah ukur annya. Sehingga kanker itu akan menyebar dan merusak. Akarnya dapat menyusup di antara elemen jaringan tubuh. Prof Nil Sari menemukan gambaran serupa tentang kanker dalam manuskrip pengobatan di era Usmani.
Menurut Ibnu Sina, tumor digolongkan menjadi dua, yakni tumor panas dan dingin. Tumor yang berwarna dan terasa hangat saat disentuh biasanya disebut tumor panas, sementara tumor yang tidak berwarna dan terasa hangat disebut tumor dingin. Ibnu Sina menyebut kanker sebagai bentuk tumor yang berada di antara tumor dingin.
Khasiat Hindiba diteliti Prof Prof Nil Sari dengan menyajikan data yang mendalam mengenai latar belakang teori percobaan invivo dan invitro dengan sari herbal dari Turki. Ia memulai dari filsafat Turki Usmani, yang berakar dari pengobatan Islam. Dalam karyanya ini, disebutkan bahwa obat Cichorium intybus L dan Crocus sativus L diidentifikasi sebagai alternatif tanaman yang identik satu sama lain yang merupakan komponen aktif untuk pengobatan kanker.
Prof Nil Sari dan rekannya Dr Hanzade Dogan mencampurkan C intybus L dan kunyit (saffron) dari Safranbolu, seperti yang dijelaskan teks pengobatan lama. Yang lebih menarik adalah hasil penelitian laboratorium kami yang menunjuk kan bahwa dari ekstrak C intybus L yang ditemukan menjadi paling aktif pada kanker usus besar, ujar Prof Nil Sari.
Menurut dia, Hindiba terbukti sangat efektif mengobati kanker. Sayangnya, kata dia, pada zaman dahulu, Hindiba lebih banyak disarankan sebagai obat untuk perawatan tumor. Hal itu terungkap dalam kitab Ibnu al-Baitar. Menurut al-Baitar, jika ramuan Hindiba dipanaskan, dan busanya diambil dan disaring kemudian diminum akan bermanfaat untuk menyembuhkan tumor.
Pakar pengobatan di era Kesultanan Turki Usmani, Mehmed Mumin, mengung kapkan bahwa Hindiba bisa meng obati tumor dalam organ internal. Namun, lebih sering dianjurkan untuk perawatan tumor pada tenggorokan. Jika kayu ma nis di campurkan pada jus Hindiba (khu sus yang diolah dengan baik) dapat digunakan un tuk obat kumurkumur serta ber manfaat pula untuk perawatan tumor, sakit dan radang tenggorokan.
Al-Baitar: Sang Penemu Hindiba
Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi, itulah nama lengkap ilmuwan Muslim legendaris yang biasa dipanggil al-Baitar. Ia adalah seorang ahli botani (tetumbuhan) dan farmasi (obat-obatan) pada era kejayaan Islam. Terlahir pada akhir abad ke-12 M di kota Malaga (Spanyol), Ibnu Al-Baitar menghabiskan masa kecilnya di tanah Andalusia tersebut.
Minatnya pada tumbuh-tumbuhan sudah tertanah semenjak kecil. Beranjak dewasa, dia pun belajar banyak mengenai ilmu botani kepada Abu al-Abbas al-Nabati yang pada masa itu merupakan ahli botani terkemuka. Dari sinilah, al-Baitar pun lantas banyak berkelana untuk mengumpulkan beraneka ragam jenis tumbuhan.
Tahun 1219 dia meninggalkan Spanyol untuk sebuah ekspedisi mencari ragam tumbuhan. Bersama beberapa pembantunya, al-Baitar menyusuri sepanjang pantai utara Afrika dan Asia Timur Jauh. Tidak diketahui apakah jalan darat atau laut yang dilalui, namun lokasi utama yang pernah disinggahi antara lain Bugia, Qastantunia (Konstantinopel), Tunisia, Tripoli, Barqa dan Adalia. Setelah tahun 1224 al-Baitar bekerja untuk al-Kamil, gubernur Mesir, dan di percaya menjadi kepala ahli tanaman obat.
Tahun 1227, al-Kamil meluaskan kekuasaannya hingga Damaskus dan al-Baitar selalu menyertainya di setiap perjalanan. Ini sekaligus dimanfaatkan untuk banyak mengumpulkan tumbuhan. Ketika tinggal beberapa tahun di Suriah, Al-Baitar berkesempatan mengadakan penelitian tumbuhan di area yang sangat luas, termasuk Saudi Arabia dan Palestina, di mana dia sanggup mengumpul kan tanaman dari sejumlah lokasi di sana. Sumbangsih utama Al-Baitar adalah Kitab al-Jami fi al-Adwiya al- Mufrada.
Buku ini sangat populer dan merupakan kitab paling terkemuka mengenai tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan Arab. Kitab ini menjadi rujukan para ahli tumbuhan dan obat-obatan hingga abad ke-16. Ensiklopedia tumbuhan yang ada dalam kitab ini mencakup 1.400 item, terbanyak adalah tumbuhan obat dan sayur mayur termasuk 200 tumbuhan yang sebelumnya tidak diketahui jenisnya. Kitab tersebut pun dirujuk oleh 150 penulis, kebanyakan asal Arab, dan dikutip oleh lebih dari 20 ilmuwan Yunani sebelum diterjemahkan ke bahasa Latin serta dipublikasikan tahun 1758. Karya fenomenal kedua Al-Baitar adalah Kitab al-Mughni fi al-Adwiya al-Mufradayakni ensiklopedia obat-obatan.
Obat bius masuk dalam daftar obat terapetik. Ditambah pula dengan 20 bab tentang beragam khasiat tanaman yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Pada masalah pembedahan yang dibahas dalam kitab ini, Al-Baitar banyak dikutip sebagai ahli bedah Muslim ternama, Abul Qasim Zahrawi. Selain bahasa Arab, Baitar pun kerap memberikan nama Latin dan Yunani kepada tumbuhan, serta memberikan transfer pengetahuan.
Kontribusi Al-Baitar tersebut merupakan hasil observasi, penelitian serta peng klasifikasian selama bertahun-tahun. Dan karyanya tersebut di kemudian hari amat mempengaruhi perkembang an ilmu botani dan kedokteran baik di Eropa maupun Asia. Meski karyanya yang lain K itab Al-Jamibaru diterjemahkan dan dipublikasikan ke dalam bahasa asing, namun banyak ilmuwan telah lama mempelajari bahasan-bahas an dalam kitab ini dan memanfaatkannya bagi kepentingan umat manusia.
Ramuan Hindibia yang ditemukan al-Baitar itu mengandung zat antikanker yang juga bisa menyembuhkan tumor dan gangguan neoplastic.
Kanker merupakan penyakit mematikan yang ditakuti umat manusia. Badan kesehatan dunia, WHO memperkirakan pada 2010, kanker akan menjadi penyakit penyebab kematian nomor wahid di dunia mengalahkan serangan jantung. Menurut prediksi WHO, pada 2030, akan ada 75 juta orang yang terkena kanker di seluruh dunia.
Sejatinya, kanker bukanlah penyakit baru. Di era kejayaan peradaban Islam, para dokter Muslim telah mampu mendiagnosis dan mengobati penyakit kanker. Tak hanya itu, dokter Muslim, seperti Ibnu Sina dan al-Baitar pun telah menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit yang mematikan itu.
Adalah al-Baitar, seorang ilmuwan Muslim abad ke-12 M yang berhasil menemukan ramuan herbal untuk meng obati kanker bernama Hindiba. Ramuan Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu mengandung zat antikanker yang juga bisa menyembuhkan tumor dan ganguan-gangguan neoplastic.
Kepala Departemen Sejarah dan Etika, Universitas Istanbul, Turki, Prof Nil Sari dalam karyanya Hindiba: A Drug for Cancer Treatment in Muslim Heritage, telah membuktikan khasiat dan kebenaran ramuan herbal Hindiba yang ditemukan al-Baitar itu. Ia dan sejumlah dokter lainnya telah melakukan pengujian secara ilmiah dan bahkan telah mempatenkan Hindiba yang ditemukan al-Baitar.
Menurut Prof Nil Sari, Hindiba telah dikenal para ahli pengobatan (pharmacologis) Muslim, serta herbalis di dunia Islam. Umat Muslim telah menggunakan ramuan untuk menyembuhkan kanker jauh sebelum dokter di dunia Barat menemukannya, ungkap Prof Nil Sari.
Setelah melakukan pengujian secara ilmiah, Prof Nil Sari menyimpulkan bahwa, Hindiba memiliki kekuatan untuk mengobati berbagai penyakit. Hindiba dapat membersihkan hambatan yang terdapat pada saluran-saluran kecil di dalam tubuh, khususnya dalam sistem pencernaan. Tapi domain yang paling spektakuler adalah kekuatannya yang dapat menyembuhkan tumor ungkapnya.
Untuk melacak khasiat dan ramuan Hindiba, Prof Nil Sari pun melakukan penelitian terhadap literatur pengobatan masa lalu. Ia melacak dua masterpiece ilmuwan Muslim, yakni Ibnu Sina lewat Canon of Medicine serta ensiklopedia tanaman yang ditulis al-Baitar.
Ketika kami melihat teks lama secara lebih dekat, kami melihat adanya kebenaran yang sedikit sekali kami ketahui tentang ramuan tanaman (herbal) di masa lalu,ungkapnya. Dalam teks peninggalan kejayaan Islam itu dijelaskan bahwa Hindiba dan berbagai jenis herbal lainnya dibagi menjadi dua kelompok utama, yakni herbal yang diolah dan herbal yang tak diolah.
Menurut teks pengobatan kuno, keampuhan pengobatan kanker dengan menggunakan Hindiba didasarkan atas pertimbangan teoritis pengobatan, yakni efek obat-obatan medis beroperasi sesuai dengan sifat dari konstituen. Menurut Prof Nil, konstituen yang dihasilkan dari dekomposisi akan memiliki efek yang disebut energi. Potensi kualitas panas dan dingin dalam sifat obat akan keluar sebagai hasil dekomposisi dalam tubuh.
Komponen aktif komponen alami yang panas akan segera bereaksi. Akan tersebar melalui jaringan secara efektif. Konstituen panas bereaksi sebelum konstituen dingin dan membersihkan hambatan dalam saluransaluran kecil pada bagian tubuh dan memperlancar penyebaran konstituen dingin. Kemudian, unsur dingin itu datang dan mulai berfungsi menjalankan fungsinya.
Dalam risalah kedokteran berbahasa Arab, peninggalan era keemasan Islam, disebutkan bahwa semua jenis pembengkakan seperti kutil atau benjolan telah menyebabkan gangguan pada saluran. Sedangkan kanker digambarkan sebagai massa yang keras. Diidentifikasi sebagai pembengkakan yang keras, kanker berkembang dari kecil kemudian menjadi besar ditambah dengan rasa sakit.
Mengutip catatan Ibnu Sina dalam Canon of Medicine, Prof Nil Sari mengungkapkan, tumor atau kanker, bila di biarkan akan semakin bertambah ukur annya. Sehingga kanker itu akan menyebar dan merusak. Akarnya dapat menyusup di antara elemen jaringan tubuh. Prof Nil Sari menemukan gambaran serupa tentang kanker dalam manuskrip pengobatan di era Usmani.
Menurut Ibnu Sina, tumor digolongkan menjadi dua, yakni tumor panas dan dingin. Tumor yang berwarna dan terasa hangat saat disentuh biasanya disebut tumor panas, sementara tumor yang tidak berwarna dan terasa hangat disebut tumor dingin. Ibnu Sina menyebut kanker sebagai bentuk tumor yang berada di antara tumor dingin.
Khasiat Hindiba diteliti Prof Prof Nil Sari dengan menyajikan data yang mendalam mengenai latar belakang teori percobaan invivo dan invitro dengan sari herbal dari Turki. Ia memulai dari filsafat Turki Usmani, yang berakar dari pengobatan Islam. Dalam karyanya ini, disebutkan bahwa obat Cichorium intybus L dan Crocus sativus L diidentifikasi sebagai alternatif tanaman yang identik satu sama lain yang merupakan komponen aktif untuk pengobatan kanker.
Prof Nil Sari dan rekannya Dr Hanzade Dogan mencampurkan C intybus L dan kunyit (saffron) dari Safranbolu, seperti yang dijelaskan teks pengobatan lama. Yang lebih menarik adalah hasil penelitian laboratorium kami yang menunjuk kan bahwa dari ekstrak C intybus L yang ditemukan menjadi paling aktif pada kanker usus besar, ujar Prof Nil Sari.
Menurut dia, Hindiba terbukti sangat efektif mengobati kanker. Sayangnya, kata dia, pada zaman dahulu, Hindiba lebih banyak disarankan sebagai obat untuk perawatan tumor. Hal itu terungkap dalam kitab Ibnu al-Baitar. Menurut al-Baitar, jika ramuan Hindiba dipanaskan, dan busanya diambil dan disaring kemudian diminum akan bermanfaat untuk menyembuhkan tumor.
Pakar pengobatan di era Kesultanan Turki Usmani, Mehmed Mumin, mengung kapkan bahwa Hindiba bisa meng obati tumor dalam organ internal. Namun, lebih sering dianjurkan untuk perawatan tumor pada tenggorokan. Jika kayu ma nis di campurkan pada jus Hindiba (khu sus yang diolah dengan baik) dapat digunakan un tuk obat kumurkumur serta ber manfaat pula untuk perawatan tumor, sakit dan radang tenggorokan.
Al-Baitar: Sang Penemu Hindiba
Abu Muhammad Abdallah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi, itulah nama lengkap ilmuwan Muslim legendaris yang biasa dipanggil al-Baitar. Ia adalah seorang ahli botani (tetumbuhan) dan farmasi (obat-obatan) pada era kejayaan Islam. Terlahir pada akhir abad ke-12 M di kota Malaga (Spanyol), Ibnu Al-Baitar menghabiskan masa kecilnya di tanah Andalusia tersebut.
Minatnya pada tumbuh-tumbuhan sudah tertanah semenjak kecil. Beranjak dewasa, dia pun belajar banyak mengenai ilmu botani kepada Abu al-Abbas al-Nabati yang pada masa itu merupakan ahli botani terkemuka. Dari sinilah, al-Baitar pun lantas banyak berkelana untuk mengumpulkan beraneka ragam jenis tumbuhan.
Tahun 1219 dia meninggalkan Spanyol untuk sebuah ekspedisi mencari ragam tumbuhan. Bersama beberapa pembantunya, al-Baitar menyusuri sepanjang pantai utara Afrika dan Asia Timur Jauh. Tidak diketahui apakah jalan darat atau laut yang dilalui, namun lokasi utama yang pernah disinggahi antara lain Bugia, Qastantunia (Konstantinopel), Tunisia, Tripoli, Barqa dan Adalia. Setelah tahun 1224 al-Baitar bekerja untuk al-Kamil, gubernur Mesir, dan di percaya menjadi kepala ahli tanaman obat.
Tahun 1227, al-Kamil meluaskan kekuasaannya hingga Damaskus dan al-Baitar selalu menyertainya di setiap perjalanan. Ini sekaligus dimanfaatkan untuk banyak mengumpulkan tumbuhan. Ketika tinggal beberapa tahun di Suriah, Al-Baitar berkesempatan mengadakan penelitian tumbuhan di area yang sangat luas, termasuk Saudi Arabia dan Palestina, di mana dia sanggup mengumpul kan tanaman dari sejumlah lokasi di sana. Sumbangsih utama Al-Baitar adalah Kitab al-Jami fi al-Adwiya al- Mufrada.
Buku ini sangat populer dan merupakan kitab paling terkemuka mengenai tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan Arab. Kitab ini menjadi rujukan para ahli tumbuhan dan obat-obatan hingga abad ke-16. Ensiklopedia tumbuhan yang ada dalam kitab ini mencakup 1.400 item, terbanyak adalah tumbuhan obat dan sayur mayur termasuk 200 tumbuhan yang sebelumnya tidak diketahui jenisnya. Kitab tersebut pun dirujuk oleh 150 penulis, kebanyakan asal Arab, dan dikutip oleh lebih dari 20 ilmuwan Yunani sebelum diterjemahkan ke bahasa Latin serta dipublikasikan tahun 1758. Karya fenomenal kedua Al-Baitar adalah Kitab al-Mughni fi al-Adwiya al-Mufradayakni ensiklopedia obat-obatan.
Obat bius masuk dalam daftar obat terapetik. Ditambah pula dengan 20 bab tentang beragam khasiat tanaman yang bermanfaat bagi tubuh manusia. Pada masalah pembedahan yang dibahas dalam kitab ini, Al-Baitar banyak dikutip sebagai ahli bedah Muslim ternama, Abul Qasim Zahrawi. Selain bahasa Arab, Baitar pun kerap memberikan nama Latin dan Yunani kepada tumbuhan, serta memberikan transfer pengetahuan.
Kontribusi Al-Baitar tersebut merupakan hasil observasi, penelitian serta peng klasifikasian selama bertahun-tahun. Dan karyanya tersebut di kemudian hari amat mempengaruhi perkembang an ilmu botani dan kedokteran baik di Eropa maupun Asia. Meski karyanya yang lain K itab Al-Jamibaru diterjemahkan dan dipublikasikan ke dalam bahasa asing, namun banyak ilmuwan telah lama mempelajari bahasan-bahas an dalam kitab ini dan memanfaatkannya bagi kepentingan umat manusia.
HIKMAH
Pertemuan dan perpisahan…
sebuah pertemuan..penghujung perpisahan..
pertemuan itu berlangsung tiap detik hidup kita. Sejak lahir kita di hadapkan dengan pertemuan. Saat lahir kedunia pertemuan terjadi antara seorang bayi dengan ibu bapak yang amat mengasihinya. Masuk alam persekolahan, kita bakal bertemu dengan sahabat-sahabat sejati, dan bermula disini pertemuan yang paling kerap kita rasai, dan penghujungnya pasti ada perpisahan. Di sinilah baru kita mengenali ketulusan hati seorang teman itu menjadi impian kita dan sejenak aku mengaplikasikan dalam diri aku sendiri mengakuinya. Apabila pertemuan ini dihiasi dengan ketulusan, kejujuran, dan kebahagiaan yang tidak lari dari tali Allah, memori bersama seorang teman itu pasti utuh dalam lubuk hati yang paling dalam, dan memori-memori itu pasti akan dikenang selepas berlaku perpisahan.
itu fitrah manusia..
besar arti sebuah pertemuan, dan setiap yang terjadi ada hikmah yang kita ketahui, dan semua benda dapat dilihat dengan mata kasar..tetapi lihatlah dengan mata hati karena itu mata sebenarnya. Lihat saja insan yang Allah ciptakan dalam keadaan buta. Mata hatinya cukup kuat sekalipun mata kasarnya tidak mampu melihat. Coba kita ingat-ingat kembali. Apakah tiap-tiap pertemuan yang berlaku dalam hidup Kita membawa arti? Membawa hikmah tersirat?… Bagiku, istilah pertemuan, perpisahan sememangnya istilah yang terlalu banyak untuk di huraikan, terlalu banyak untuk dikatakan, dan semanis-manis pertemuan bagi ku adalah bersahabat dengan seseorang yang membawa aku ke jalan kebenaran, bersama-sama mengharung onak dan dugaan..
penghujung perpisahan..
mendengar sebaris kalimat ini, kita sudah mampu mentafsirkan bahawa perpisahan pasti mengakhiri setiap pertemuan. bukan kah? pertemuan pada hidup adalah mati. Pertemuan bersama sahabat sejati juga pasti berakhir dengan perpisahan saat masing-masing membawa tujuan hidup.. itu realitinya yang kita tidak mampu sangkal. Allah mengaturkannya. Alam ini ada aturannya pertemuan lawannya perpisahan itu hukum alam yang kita sebagai manusia akan mampu menyangkal, apatah lagi menidakkannya..
tiada yang kekal selamanya. Hidup di dunia ini hanya sementara dan yang abadi ialah akhirat. Dunia hanyalah jembatan menuju alam akhirat. Pertemuan dan perpisahan corak kehidupan keindahannya tersembunyi..hikmahnya kadang kala tidak kita sedari…
sebuah pertemuan..penghujung perpisahan..
pertemuan itu berlangsung tiap detik hidup kita. Sejak lahir kita di hadapkan dengan pertemuan. Saat lahir kedunia pertemuan terjadi antara seorang bayi dengan ibu bapak yang amat mengasihinya. Masuk alam persekolahan, kita bakal bertemu dengan sahabat-sahabat sejati, dan bermula disini pertemuan yang paling kerap kita rasai, dan penghujungnya pasti ada perpisahan. Di sinilah baru kita mengenali ketulusan hati seorang teman itu menjadi impian kita dan sejenak aku mengaplikasikan dalam diri aku sendiri mengakuinya. Apabila pertemuan ini dihiasi dengan ketulusan, kejujuran, dan kebahagiaan yang tidak lari dari tali Allah, memori bersama seorang teman itu pasti utuh dalam lubuk hati yang paling dalam, dan memori-memori itu pasti akan dikenang selepas berlaku perpisahan.
itu fitrah manusia..
besar arti sebuah pertemuan, dan setiap yang terjadi ada hikmah yang kita ketahui, dan semua benda dapat dilihat dengan mata kasar..tetapi lihatlah dengan mata hati karena itu mata sebenarnya. Lihat saja insan yang Allah ciptakan dalam keadaan buta. Mata hatinya cukup kuat sekalipun mata kasarnya tidak mampu melihat. Coba kita ingat-ingat kembali. Apakah tiap-tiap pertemuan yang berlaku dalam hidup Kita membawa arti? Membawa hikmah tersirat?… Bagiku, istilah pertemuan, perpisahan sememangnya istilah yang terlalu banyak untuk di huraikan, terlalu banyak untuk dikatakan, dan semanis-manis pertemuan bagi ku adalah bersahabat dengan seseorang yang membawa aku ke jalan kebenaran, bersama-sama mengharung onak dan dugaan..
penghujung perpisahan..
mendengar sebaris kalimat ini, kita sudah mampu mentafsirkan bahawa perpisahan pasti mengakhiri setiap pertemuan. bukan kah? pertemuan pada hidup adalah mati. Pertemuan bersama sahabat sejati juga pasti berakhir dengan perpisahan saat masing-masing membawa tujuan hidup.. itu realitinya yang kita tidak mampu sangkal. Allah mengaturkannya. Alam ini ada aturannya pertemuan lawannya perpisahan itu hukum alam yang kita sebagai manusia akan mampu menyangkal, apatah lagi menidakkannya..
tiada yang kekal selamanya. Hidup di dunia ini hanya sementara dan yang abadi ialah akhirat. Dunia hanyalah jembatan menuju alam akhirat. Pertemuan dan perpisahan corak kehidupan keindahannya tersembunyi..hikmahnya kadang kala tidak kita sedari…
ENSIKLOPEDIA
Agama Islamlah Yang Mengaruniai Sains Kepada Dunia
Al quran sebagai mukjizat telah merubah wajah dunia. Perombakan terbesar yang didasari Al Quran adalah revolusi akal. Berapa puluh ayat dalam AlQuran menyuruh manusia untuk selalu berpikir. Sehinga lahirlah generasi cemerlang yang mampu menjadikan Peradaban Islam sebagai kiblat Dunia pada msa lalu.
Mengutip tulisan Dr. Amir Hasan Siddiqi yaitu dalam buku"Studies In Islamic History":
Kitab Islamlah yang merangsang revolusi di dalam pikiran Islam melawan pikiran filsafat Yunani yang buta akan observasi dan experimen. Revolusi yang meletakan dasar science modern inilah yang menjelma sendiri pada semua segi pemikiran insani. Itulah sebabnya robert Briffault menulis:
"Bukan semata science-lah yang menggugah Eropa hidup kembali. Lainnya dan aneka pengaruh peradaban Islam mengaitkan pijaran pertamanya kepada kehidupan Eropa. Dan sekali lagi, meskipun tiada satupun aspek pertumbuhan Eropa yang tidak dapat dibaui jejaknya, pengaruh kultur Islam yang menentukan, dimana saja pun tidak sejelas dan sepenting seperti halnya pada kelahiran kekuatan yang nyata dari pada dunia modern, dan sumber yang unggul kemenangannya- ilmu alam dan semangat ilmuahnya. Akan halnya hutang ilmu pengetahuan kita kepada dunia Islam bukanlah dikarenakan oleh kejutan penemuan-penemuan atau teori-teori yang revolusioner.Ilmu pengetahuan mempunyai hutang lebih besar kepada kultur Islam. Bahkan berhutang akan hidupnya. Dunia purba adalah pra-ilmiyah. Bangsa Yunani menertibkannya, meluas meratakan, merumuskan;cara tertekun penyelidikan, menghimpun pengetahuan positif, meride yang rumit akan science, terperinci dan tinjauannya yang jauh dari pemeriksaan experimental yang kesemuanya dapat dikenakan pada watak Yunani. Adapun yang kita namakan science yang muncul di eropa sebagai hasil semangat yang baru dalam penyelidikan,metode-metode experimental, tinjauan pengukuran dalam perkembangan matematika adalah suatu bentuk yang asing bagi bangsa yunani. Semangat dan metode-metode itu adalah diperkenalkan kepada dunia Eropa oleh orang-orang muslim Arab."
Apa yang bisa kita petik dari tulisan tersebut?
Sains itu bagaikan senjata rahasia dalam menaklukan alam sehingga tergantung pada siapa yang menggunakannya. Sayangya saat ini sains dimiliki oleh orang-orang yang jauh dari petunjuk Allah sehingga Hasilnya pun meyimpang dari kebenaran.
Al quran sebagai mukjizat telah merubah wajah dunia. Perombakan terbesar yang didasari Al Quran adalah revolusi akal. Berapa puluh ayat dalam AlQuran menyuruh manusia untuk selalu berpikir. Sehinga lahirlah generasi cemerlang yang mampu menjadikan Peradaban Islam sebagai kiblat Dunia pada msa lalu.
Mengutip tulisan Dr. Amir Hasan Siddiqi yaitu dalam buku"Studies In Islamic History":
Kitab Islamlah yang merangsang revolusi di dalam pikiran Islam melawan pikiran filsafat Yunani yang buta akan observasi dan experimen. Revolusi yang meletakan dasar science modern inilah yang menjelma sendiri pada semua segi pemikiran insani. Itulah sebabnya robert Briffault menulis:
"Bukan semata science-lah yang menggugah Eropa hidup kembali. Lainnya dan aneka pengaruh peradaban Islam mengaitkan pijaran pertamanya kepada kehidupan Eropa. Dan sekali lagi, meskipun tiada satupun aspek pertumbuhan Eropa yang tidak dapat dibaui jejaknya, pengaruh kultur Islam yang menentukan, dimana saja pun tidak sejelas dan sepenting seperti halnya pada kelahiran kekuatan yang nyata dari pada dunia modern, dan sumber yang unggul kemenangannya- ilmu alam dan semangat ilmuahnya. Akan halnya hutang ilmu pengetahuan kita kepada dunia Islam bukanlah dikarenakan oleh kejutan penemuan-penemuan atau teori-teori yang revolusioner.Ilmu pengetahuan mempunyai hutang lebih besar kepada kultur Islam. Bahkan berhutang akan hidupnya. Dunia purba adalah pra-ilmiyah. Bangsa Yunani menertibkannya, meluas meratakan, merumuskan;cara tertekun penyelidikan, menghimpun pengetahuan positif, meride yang rumit akan science, terperinci dan tinjauannya yang jauh dari pemeriksaan experimental yang kesemuanya dapat dikenakan pada watak Yunani. Adapun yang kita namakan science yang muncul di eropa sebagai hasil semangat yang baru dalam penyelidikan,metode-metode experimental, tinjauan pengukuran dalam perkembangan matematika adalah suatu bentuk yang asing bagi bangsa yunani. Semangat dan metode-metode itu adalah diperkenalkan kepada dunia Eropa oleh orang-orang muslim Arab."
Apa yang bisa kita petik dari tulisan tersebut?
Sains itu bagaikan senjata rahasia dalam menaklukan alam sehingga tergantung pada siapa yang menggunakannya. Sayangya saat ini sains dimiliki oleh orang-orang yang jauh dari petunjuk Allah sehingga Hasilnya pun meyimpang dari kebenaran.
DAKWAH
Indahnya Menyebarkan Syari'ah Islam
Pernah suatu saat saya bepergian menggunakan jasa kereta api. Di awal perjalanan, seorang penumpang nampak sedang berdoa dengan lantang, penuh kekhusu’an dan ketenangan. Kemudian terbersit dalam benakku suatu ungkapan yang memaksaku berhenti pada awal do’a, yakni “Mengikuti sunah Rasulullah”. Saya membayangkan bagaimana jika syiar-syiar Islam dieksplorasi dan dijaga syariat sehingga membekas di hati umat Islam. Kita telah mendengar bahwa saat Rasulullah akan memerangi suatu kaum, beliau mengamati terlebih dahulu, jika mereka masih mendengar adzan, maka perang diurungkan. Jika tidak, barulah beliau memeranginya. Para ulama fiqh juga telah menegaskan, jika penduduk suatu negeri enggan menegakkan salah satu dari syiar Islam, maka mereka wajib diperangi. Sebagaimana Abu Bakar ra telah memerangi kaum yang enggan mengeluarkan zakat.
Sungguh menyebarkan syiar Islam adalah suatu kenikmatan besar dan terbesar:
Dengan menampakkan syiar Islam berarti kita menampakkan rasa syukur kepada Allah, taat pada ajaran Rasulullah, melaksanakan ajaran Islam, mempererat agama, berdakwah agar orang lain masuk agama Islam, bukti bahwa Negara berpegang teguh pada ajaran Islam, bukti ketakwaan, mengagungkan Allah, menunjukkan identitas dan kebudayaan suatu masyarakat, mengingatkan orang yang lupa dan lalai, memperoleh kepastian petunjuk, membantu meningkatkan ketaatan dan menegakkan syariat serta rasa tentram dari turunnya adzab dan tersebarnya fitnah.
Syiar Islam yang acapkali kita temukan di Negara kita antara lain: kumandang adzan, shalat lima waktu secara berjamaah, shalat istisqa’, shalat kusuf, shalat ‘Ied, shalat tarawih, zakat fitrah, puasa ramadhan, haji, menyembelih kurban, amar ma’ruf nahi munkar, pengajian al quran, majlis ulama dan majlis dakwah, hukum syariat, keharusan untuk berperilaku sesuai syariat di muka umum, perbaikan metode pembelajaran, menjaga amal shalih dan sebagainya. Tentunya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Semoga Allah memperbaiki dan menyempurnakannya.
Simaklah Firman Allah berikut ini:
“Dan barangsiapa mengagungkan syiar Allah, maka (hal itu menunjukkan) ketakwaan hatinya.”
“Dan barangsiapa mengagungkan kehormatan Allah, maka hal itu lebih baik baginya menurut Tuhannya.”
Juga sabda Rasulullah saw:
“Islam dibangun di atas lima hal; syahadat, shalat, zakat, puasa ramadhan, dan haji ke baitullah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika iman seseorang semakin kuat, maka semakin teguh pulalah dia memegang dan menyebarkan syiar Islam. Jika imannya semakin lemah, maka semakin lemah pula keinginannya untuk menampakkan syiar Islam, sampai pada akhirnya, hanya shalat yang dia lakukan, itupun dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi, malu jika dilihat orang lain. Sungguh amat disayangkan. Kini, orang yang masih memegang teguh agamanya telah jarang ditemukan di negara-negara muslim. Jika sudah begitu, maka Islam akan semakin tenggelam dan meredup. Cobalah pergi ke Negara-negara yang sama sekali tidak terlihat syiar Islam, maka anda akan menyadari betapa nikmat yang besar telah hilang dari negeri kita. Betapa ketakutan dan kalalaian telah mengunci otak kita. Semoga Allah berkehendak memberikan pertolongan-Nya.
Musuh-musuh Islam akan terus bersikeras menghilangkan syiar agama Islam. Mereka ingin menjadikan agama hanya sebagai ritual-ritual antara seseorang dengan Tuhannya, tidak lagi berimplikasi dan berperan dalam kehidupan dan interaksi manusia. Pada akhirnya, manusia merasa bebas dari tanggung jawab menjaga syiar agama. Waspadalah, tipu-daya mereka benar-benar buruk dan mengejutkan.
Mudah-mudahan Allah melindungi Negara yang kita cintai ini dari fitnah dan tipu daya mereka, juga Negara muslim yang lain. Semoga Allah menyelamatkan kita, memberi petunjuk kepada para pejabat pemerintahan kita sesuai dengan kasih dan ridlanya, memberi kita pertolongan dalam menyebarkan syiar Islam, memberikan pahala yang berlipat, memberi anugerah kesehatan dan menjauhkan kita dari segala marabahaya. Semoga Allah melemahkan kekuatan musuh-musuh Islam. Segala puji bagi Tuhan, dzat pemelihara alam semesta
Pernah suatu saat saya bepergian menggunakan jasa kereta api. Di awal perjalanan, seorang penumpang nampak sedang berdoa dengan lantang, penuh kekhusu’an dan ketenangan. Kemudian terbersit dalam benakku suatu ungkapan yang memaksaku berhenti pada awal do’a, yakni “Mengikuti sunah Rasulullah”. Saya membayangkan bagaimana jika syiar-syiar Islam dieksplorasi dan dijaga syariat sehingga membekas di hati umat Islam. Kita telah mendengar bahwa saat Rasulullah akan memerangi suatu kaum, beliau mengamati terlebih dahulu, jika mereka masih mendengar adzan, maka perang diurungkan. Jika tidak, barulah beliau memeranginya. Para ulama fiqh juga telah menegaskan, jika penduduk suatu negeri enggan menegakkan salah satu dari syiar Islam, maka mereka wajib diperangi. Sebagaimana Abu Bakar ra telah memerangi kaum yang enggan mengeluarkan zakat.
Sungguh menyebarkan syiar Islam adalah suatu kenikmatan besar dan terbesar:
Dengan menampakkan syiar Islam berarti kita menampakkan rasa syukur kepada Allah, taat pada ajaran Rasulullah, melaksanakan ajaran Islam, mempererat agama, berdakwah agar orang lain masuk agama Islam, bukti bahwa Negara berpegang teguh pada ajaran Islam, bukti ketakwaan, mengagungkan Allah, menunjukkan identitas dan kebudayaan suatu masyarakat, mengingatkan orang yang lupa dan lalai, memperoleh kepastian petunjuk, membantu meningkatkan ketaatan dan menegakkan syariat serta rasa tentram dari turunnya adzab dan tersebarnya fitnah.
Syiar Islam yang acapkali kita temukan di Negara kita antara lain: kumandang adzan, shalat lima waktu secara berjamaah, shalat istisqa’, shalat kusuf, shalat ‘Ied, shalat tarawih, zakat fitrah, puasa ramadhan, haji, menyembelih kurban, amar ma’ruf nahi munkar, pengajian al quran, majlis ulama dan majlis dakwah, hukum syariat, keharusan untuk berperilaku sesuai syariat di muka umum, perbaikan metode pembelajaran, menjaga amal shalih dan sebagainya. Tentunya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Semoga Allah memperbaiki dan menyempurnakannya.
Simaklah Firman Allah berikut ini:
“Dan barangsiapa mengagungkan syiar Allah, maka (hal itu menunjukkan) ketakwaan hatinya.”
“Dan barangsiapa mengagungkan kehormatan Allah, maka hal itu lebih baik baginya menurut Tuhannya.”
Juga sabda Rasulullah saw:
“Islam dibangun di atas lima hal; syahadat, shalat, zakat, puasa ramadhan, dan haji ke baitullah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika iman seseorang semakin kuat, maka semakin teguh pulalah dia memegang dan menyebarkan syiar Islam. Jika imannya semakin lemah, maka semakin lemah pula keinginannya untuk menampakkan syiar Islam, sampai pada akhirnya, hanya shalat yang dia lakukan, itupun dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi, malu jika dilihat orang lain. Sungguh amat disayangkan. Kini, orang yang masih memegang teguh agamanya telah jarang ditemukan di negara-negara muslim. Jika sudah begitu, maka Islam akan semakin tenggelam dan meredup. Cobalah pergi ke Negara-negara yang sama sekali tidak terlihat syiar Islam, maka anda akan menyadari betapa nikmat yang besar telah hilang dari negeri kita. Betapa ketakutan dan kalalaian telah mengunci otak kita. Semoga Allah berkehendak memberikan pertolongan-Nya.
Musuh-musuh Islam akan terus bersikeras menghilangkan syiar agama Islam. Mereka ingin menjadikan agama hanya sebagai ritual-ritual antara seseorang dengan Tuhannya, tidak lagi berimplikasi dan berperan dalam kehidupan dan interaksi manusia. Pada akhirnya, manusia merasa bebas dari tanggung jawab menjaga syiar agama. Waspadalah, tipu-daya mereka benar-benar buruk dan mengejutkan.
Mudah-mudahan Allah melindungi Negara yang kita cintai ini dari fitnah dan tipu daya mereka, juga Negara muslim yang lain. Semoga Allah menyelamatkan kita, memberi petunjuk kepada para pejabat pemerintahan kita sesuai dengan kasih dan ridlanya, memberi kita pertolongan dalam menyebarkan syiar Islam, memberikan pahala yang berlipat, memberi anugerah kesehatan dan menjauhkan kita dari segala marabahaya. Semoga Allah melemahkan kekuatan musuh-musuh Islam. Segala puji bagi Tuhan, dzat pemelihara alam semesta
AKHLAQ
AYAT KURSI MENJELANG TIDUR
Abu Hurairah r.a. pernah ditugaskan oleh Rasulullah S.A.W untuk menjaga gudang zakat di bulan Ramadhan. Tiba-tiba muncullah seseorang, lalu mencuri segenggam makanan. Namun kepintaran Hurairah memang patut dipuji, kemudian pencuri itu kemudian berhasil ditangkapnya.
"Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W," gertak Abu Hurairah.
Bukan main takutnya pencuri itu mendengar ancaman Abu Hurairah, hingga kemudian ia pun merengek-rengek : "Saya ini orang miskin, keluarga tanggungan saya banyak, sementara saya sangat memerlukan makanan."
Maka pencuri itu pun dilepaskan. Bukankah zakat itu pada akhirnya akan diberikan kepada fakir miskin ? Hanya saja, cara memang keliru. Mestinya jangan keliru.
Keesokan harinya, Abu Hurairah melaporkan kepada Rasulullah S.A.W. Maka bertanyalah beliau : "Apa yang dilakukan kepada tawananmu semalam, ya Abu Hurairah?"
Ia mengeluh, "Ya Rasulullah, bahwa ia orang miskin, keluarganya banyak dan sangat memerlukan makanan," jawab Abu Hurairah. Lalu diterangkan pula olehnya, bahwa ia kasihan kepada pencuri itu,, lalu dilepaskannya.
"Bohong dia," kata Nabi : "Pada hala nanti malam ia akan datang lagi."
Kerana Rasulullah S.A.W berkata begitu, maka penjagaannya diperketat, dan kewaspadaan pun ditingkatkan.Dan, benar juga, pencuri itu kembali lagi, lalu mengambil makanan seperti kelmarin. Dan kali ini ia pun tertangkap.
"Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W," ancam Abu Hurairah, sama seperti kelmarin. Dan pencuri itu pun sekali lagi meminta ampun : "Saya orang miskin, keluarga saya banyak. Saya berjanji esok tidak akan kembali lagi."
Kasihan juga rupanya Abu Hurairah mendengar keluhan orang itu, dan kali ini pun ia kembali dilepaskan. Pada paginya, kejadian itu dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W, dan beliau pun bertanya seperti kelmarin. Dan setelah mendapat jawapan yang sama, sekali lagi Rasulullah menegaskan : "Pencuri itu bohong, dan nanti malam ia akan kembali lagi."
Malam itu Abu Hurairah berjaga-jaga dengan kewaspadaan dan kepintaran penuh. Mata, telinga dan perasaannya dipasang baik-baik. Diperhatikannya dengan teliti setiap gerak-geri disekelilingnya sudah dua kali ia dibohongi oleh pencuri. Jika pencuri itu benar-benar datang seperti diperkatakan oleh Rasulullah dan ia berhasil menangkapnya, ia telah bertekad tidak akan melepaskannya sekali lagi. Hatinya sudah tidak sabar lagi menunggu-nunggu datangnya pencuri jahanam itu. Ia kesal. Kenapa pencuri kelmarin itu dilepaskan begitu saja sebelum diseret ke hadapan Rasulullah S.A.W ? Kenapa mahu saja ia ditipu olehnya ? "Awas!" katanya dalam hati. "Kali ini tidak akan kuberikan ampun."
Malam semakin larut, jalanan sudah sepi, ketika tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang datang menghampiri longgokan makanan yang dia jaga. "Nah, benar juga, ia datang lagi," katanya dalam hati. Dan tidak lama kemudian pencuri itu telah bertekuk lutut di hadapannya dengan wajah ketakutan. Diperhatikannya benar-benar wajah pencuri itu. Ada semacam kepura-puraan pada gerak-gerinya.
"Kali ini kau pastinya kuadukan kepada Rasulullah. Sudah dua kali kau berjanji tidak akan datang lagi ke mari, tapi ternyata kau kembali juga. Lepaskan saya," pencuri itu memohon. Tapi, dari tangan Abu Hurairah yang menggenggam erat-erat dapat difahami, bahwa kali ini ia tidak akan dilepaskan lagi. Maka dengan rasa putus asa ahirnya pencuri itu berkata : "Lepaskan saya, akan saya ajari tuan beberapa kalimat yang sangat berguna."
"Kalimat-kalimat apakah itu?" Tanya Abu Hurairah dengan rasa ingin tahu. "Bila tuan hendak tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu….. Dan seterusnya sampai akhir ayat. Maka tuan akan selalu dipelihara oleh Allah, dan tidak akan ada syaitan yang berani mendekati tuan sampai pagi."
Maka pencuri itu pun dilepaskan oleh Abu Hurairah. Agaknya naluri keilmuannya lebih menguasai jiwanya sebagai penjaga gudang.
Dan keesokan harinya, ia kembali menghadap Rasulullah S.A.W untuk melaporkan pengalamannya yang luar biasa tadi malam. Ada seorang pencuri yang mengajarinya kegunaan ayat Kursi.
"Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?" tanya Rasul sebelum Abu Hurairah sempat menceritakan segalanya.
"Ia mengajariku beberapa kalimat yang katanya sangat berguna, lalu ia saya lepaskan," jawab Abu Hurairah.
"Kalimat apakah itu?" tanya Nabi.
Katanya : "Kalau kamu tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu….. Dan seterusnya sampai akhir ayat. Dan ia katakan pula : "Jika engkau membaca itu, maka engkau akan selalu dijaga oleh Allah, dan tidak akan didekati syaitan hingga pagi hari."
Menanggapi cerita Abu Hurairah, Nabi S.A.W berkata, "Pencuri itu telah berkata benar, sekalipun sebenarnya ia tetap pendusta." Kemudian Nabi S.A.W bertanya pula : "Tahukah kamu, siapa sebenarnya pencuri yang ertemu denganmu tiap malam itu?"
"Entahlah." Jawab Abu Hurairah.
"Itulah syaitan."
Abu Hurairah r.a. pernah ditugaskan oleh Rasulullah S.A.W untuk menjaga gudang zakat di bulan Ramadhan. Tiba-tiba muncullah seseorang, lalu mencuri segenggam makanan. Namun kepintaran Hurairah memang patut dipuji, kemudian pencuri itu kemudian berhasil ditangkapnya.
"Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W," gertak Abu Hurairah.
Bukan main takutnya pencuri itu mendengar ancaman Abu Hurairah, hingga kemudian ia pun merengek-rengek : "Saya ini orang miskin, keluarga tanggungan saya banyak, sementara saya sangat memerlukan makanan."
Maka pencuri itu pun dilepaskan. Bukankah zakat itu pada akhirnya akan diberikan kepada fakir miskin ? Hanya saja, cara memang keliru. Mestinya jangan keliru.
Keesokan harinya, Abu Hurairah melaporkan kepada Rasulullah S.A.W. Maka bertanyalah beliau : "Apa yang dilakukan kepada tawananmu semalam, ya Abu Hurairah?"
Ia mengeluh, "Ya Rasulullah, bahwa ia orang miskin, keluarganya banyak dan sangat memerlukan makanan," jawab Abu Hurairah. Lalu diterangkan pula olehnya, bahwa ia kasihan kepada pencuri itu,, lalu dilepaskannya.
"Bohong dia," kata Nabi : "Pada hala nanti malam ia akan datang lagi."
Kerana Rasulullah S.A.W berkata begitu, maka penjagaannya diperketat, dan kewaspadaan pun ditingkatkan.Dan, benar juga, pencuri itu kembali lagi, lalu mengambil makanan seperti kelmarin. Dan kali ini ia pun tertangkap.
"Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah S.A.W," ancam Abu Hurairah, sama seperti kelmarin. Dan pencuri itu pun sekali lagi meminta ampun : "Saya orang miskin, keluarga saya banyak. Saya berjanji esok tidak akan kembali lagi."
Kasihan juga rupanya Abu Hurairah mendengar keluhan orang itu, dan kali ini pun ia kembali dilepaskan. Pada paginya, kejadian itu dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W, dan beliau pun bertanya seperti kelmarin. Dan setelah mendapat jawapan yang sama, sekali lagi Rasulullah menegaskan : "Pencuri itu bohong, dan nanti malam ia akan kembali lagi."
Malam itu Abu Hurairah berjaga-jaga dengan kewaspadaan dan kepintaran penuh. Mata, telinga dan perasaannya dipasang baik-baik. Diperhatikannya dengan teliti setiap gerak-geri disekelilingnya sudah dua kali ia dibohongi oleh pencuri. Jika pencuri itu benar-benar datang seperti diperkatakan oleh Rasulullah dan ia berhasil menangkapnya, ia telah bertekad tidak akan melepaskannya sekali lagi. Hatinya sudah tidak sabar lagi menunggu-nunggu datangnya pencuri jahanam itu. Ia kesal. Kenapa pencuri kelmarin itu dilepaskan begitu saja sebelum diseret ke hadapan Rasulullah S.A.W ? Kenapa mahu saja ia ditipu olehnya ? "Awas!" katanya dalam hati. "Kali ini tidak akan kuberikan ampun."
Malam semakin larut, jalanan sudah sepi, ketika tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang datang menghampiri longgokan makanan yang dia jaga. "Nah, benar juga, ia datang lagi," katanya dalam hati. Dan tidak lama kemudian pencuri itu telah bertekuk lutut di hadapannya dengan wajah ketakutan. Diperhatikannya benar-benar wajah pencuri itu. Ada semacam kepura-puraan pada gerak-gerinya.
"Kali ini kau pastinya kuadukan kepada Rasulullah. Sudah dua kali kau berjanji tidak akan datang lagi ke mari, tapi ternyata kau kembali juga. Lepaskan saya," pencuri itu memohon. Tapi, dari tangan Abu Hurairah yang menggenggam erat-erat dapat difahami, bahwa kali ini ia tidak akan dilepaskan lagi. Maka dengan rasa putus asa ahirnya pencuri itu berkata : "Lepaskan saya, akan saya ajari tuan beberapa kalimat yang sangat berguna."
"Kalimat-kalimat apakah itu?" Tanya Abu Hurairah dengan rasa ingin tahu. "Bila tuan hendak tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu….. Dan seterusnya sampai akhir ayat. Maka tuan akan selalu dipelihara oleh Allah, dan tidak akan ada syaitan yang berani mendekati tuan sampai pagi."
Maka pencuri itu pun dilepaskan oleh Abu Hurairah. Agaknya naluri keilmuannya lebih menguasai jiwanya sebagai penjaga gudang.
Dan keesokan harinya, ia kembali menghadap Rasulullah S.A.W untuk melaporkan pengalamannya yang luar biasa tadi malam. Ada seorang pencuri yang mengajarinya kegunaan ayat Kursi.
"Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?" tanya Rasul sebelum Abu Hurairah sempat menceritakan segalanya.
"Ia mengajariku beberapa kalimat yang katanya sangat berguna, lalu ia saya lepaskan," jawab Abu Hurairah.
"Kalimat apakah itu?" tanya Nabi.
Katanya : "Kalau kamu tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu….. Dan seterusnya sampai akhir ayat. Dan ia katakan pula : "Jika engkau membaca itu, maka engkau akan selalu dijaga oleh Allah, dan tidak akan didekati syaitan hingga pagi hari."
Menanggapi cerita Abu Hurairah, Nabi S.A.W berkata, "Pencuri itu telah berkata benar, sekalipun sebenarnya ia tetap pendusta." Kemudian Nabi S.A.W bertanya pula : "Tahukah kamu, siapa sebenarnya pencuri yang ertemu denganmu tiap malam itu?"
"Entahlah." Jawab Abu Hurairah.
"Itulah syaitan."
Langganan:
Komentar (Atom)