Kamis, 08 Mei 2014

CINTA


Jika kita tak bisa melepaskan pandangan kita
darinya itu bukan CINTA Tapi KAGUM . . .
Jika kita merasa betah berlama-lama dan berbagi cerita dengannya Itu bukan CINTA tapi KESEPIAN . . .
Jika kita bersedia mengorbankan segala hal demi menyenangkan dirinya itu bukan CINTA Tapi KEMURAHAN HATI . . .
Jika kita menerima pernyataan cintanya hanya karena kamu tidak ingin menyakiti perasaanya itu bukan CINTA tapi KASIHAN . . .
Jika kita tidak bisa berhenti memegang dan merabanya itu bukan CINTA Tapi NAFSU . . .
Jika kita mengatakan kepadanya bahwa dialah satu-satunya hal di dunia ini yang kamu pikirkan Itu bukan CINTA Tapi GOMBAL . . .
Jika kita tersenyum dikala ia bahagia dan menangis dikala ia terluka itu bukan CINTA Tapi EMPATI . . .

CINTA adalah bahasa sederhana seperti kata yang tak tersampai diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu . . .
CINTA adalah bahasa sederhana seperti isyarat yang tak sampai dikirimkan awan kepada angin yang menjadikannya hujan . . .
CINTA adalah kematian atas egoisme dan egosentrisme menyakitkan kadang namun itulah harga yang pantas diberikan untuk sebuah CINTA . . .

karena inti dari CINTA hakikat menCINTAi bukan merubah apa yang kita CINTAi menjadi seperti apa yang kita inginkan namun membiarkannya menjadi dirinya sendiri jika tidak kita hanya akan menemukan bayangan impian yang berusaha kita cocokkan dengan dirinya . . .

CINTA itu sesuatu yang fitrawi Karena CINTA lah kita bisa menghirup segarnya udara dunia karena CINTA lah kita bisa menikmati indahnya pelangi namun bukan berarti Kita boleh menghalalkan segala sesuatu demi impian yang ingin kita raih demi pencapaian ambisi pribadi lantas mengatasnamakan CINTA . . .

Cintai lah Allah, Cintailah dzat yang meminjamkan kita nafas kehidupan yang selalu dengan setia menunggu sapa CINTA kita yang tak pernah berkurang kadar CINTAnya yang tak pernah letih mendengar keluh kesah Hambanya meski terkadang kita lupa megagungkan asma-Nya . . .
Jika ada segenggam CINTA yang kita miliki maka seyogyanya CINTA itu kita berikan kepada sang Kuasa Bukan menduakannya dengan mahluknya yang lemah Berikanlah sepenuhnya Cintamu kepada-Nya . . .

Dan biarkan yang Maha Adil membaginya dengan Bijaksana sandarkanlah selalu CINTA kita pada-Nya . . .

Sabtu, 09 April 2011

HUKUM MENURUNKAN PAKAIAN DIBAWAH MATA KAKI (ISBAL) BAGI LAKI-LAKI


Isbal adalah perbuatan haram dan mungkar, sama saja apakah hal itu terjadi pada gamis atau sarung. Dan Isbal adalah yang melewati kedua mata kaki berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam.

"Apa yang di bawah kedua mata kaki berupa sarung, maka tempatnya di neraka." [Hadits Riwayat Bukhari]

Dan beliau Shalallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:

"Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan dari dosa serta mereka akan mendapat aazab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal, pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." [Hadits Riwayat Muslim dalam shahihnya]

Beliau juga bersabda kepaada sebagian para sahabatnya:

"Jauhilah Isbal olehmu, karena itu termasuk kesombongan." [Hadits Riwayat Abu Daud dan Turmudzi dengan sanad yang shahih]

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa Isbal termasuk salah satu dosa besar, walau pelakunya mengira bahwa dia tidak bermaksud sombong ketika melakukannya, berdasarkan keumumannya.

Adapun orang yang melakukannya karena sombong, maka dosanya lebih besar berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam :

"Siapa yang menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat." [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Karena perbuatan itu menggabung antara Isbal dan kesombongan. Kita mengharap kepada Allah agar Dia memberi keampunan.

Adapun ucapan Nabi Shalallaahu 'alaihi wa sallam kepada Abu Bakar ketika dia berkata kepada beliau: " Wahai Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, sarungku sering turun kecuali kalau aku benar-benar menjaganya." Maka Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya :

"Engkau tidak termasuk orang yang melakukan hal itu karena sombong." [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Hadits ini tidak menunjukkan bahwa Isbal boleh dilakukan bagi orang yang tidak karena sombong. Tapi hadits ini menujukkan bahwa orang yang sarungnya atau celananya melorot tanpa maksud sombong kemudian dia benar-benar menjaganya dan membetulkannya tidak berdosa.

Adapun menurunkan celana di bawah kedua mata kaki yang dilakukan sebagian orang adalah perbuatan yang dilarang. Dan yang sesuai dengan sunnah adalah hendaknya gamis atau yang sejenisnya, ujungnya berada antara setengah betis sampai mata kaki dengan mengamalkan semua hadits-hadits tadi. Dan Allah adalah sebaik-baik pemberi taufiq.

Jumat, 09 April 2010

PROFIL SMAMDA


Written by Administrator Thursday, 29 October 2009 20:14

PDF Print E-mail
A. Sekilas Perkembangan SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo



Lahir dan berkembangnya SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo telah melewati perjalanan panjang dalam kurun waktu yang cukup lama. SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo didirikan pada tahun 1976 oleh Bagian Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (Dikdasmen PCM) Sidoarjo. Hingga kini SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo telah berusia 29 tahun - suatu usia yang cukup dewasa bagi sebuah lembaga pendidikan. Pada awalnya (1976) dibangun tiga pondasi untuk bangunan lokal (kelas), tetapi pada saat itu baru bisa diwujudkan satu lokal bangunan yang jadi, itu pun harus disekat menjadi dua, sebagian untuk ruang kelas dan sebagian yang lain untuk kantor guru dan kepala sekolah. Pada tahun l978 dilanjutkan pembangunan lokal baru diatas 2 pondasi lokal yang sudah ada, sehingga seluruhnya menjadi tiga lokal.



Penambahan sarana belajar ini secara bertahap dilakukan terus-menerus seiring dengan kebutuhan dan pertambahan siswa yang masuk ke SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo. Pada tahun pertama dibukanya, siswa yang belajar di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo ini hanya 9 anak, tahun kedua bertambah satu kelas, tahun ketiga bertambah lagi satu kelas, dan seterusnya dari tahun ke tahun mengalami pertambahan secara signifikan, hingga pada sekitar tahun pelajaran 1994 - 1995 jumlah siswanya menjadi 15 kelas (kelas paralel I, II, dan III masing-masing 5 kelas paralel). Kemudian pada sekitar tahun 1997 - 1998 mengalami peningkatan lagi menjadi 18 kelas (kelas I, II, dan III masing-masing 6 kelas paralel), dan pada tahun pelajaran 2000 - 2001 bertambah lagi menjadi 21 kelas (kelas I, II dan III masing-masing 7 kelas paralel). Di tahun pelajaran 2005 - 2006 kelasnya menjadi 28 kelas (kelas X ada 10 kelas, kelas XI ada 9 kelas, dan kelas III ada 9 kelas) dengan jumlah siswa seluruhnya mencapai 1227 siswa. Pada tahun pelajaran 2006 - 2007 diperkirakan ada sekitar 1267 an siswa dengan 30 kelas (kelas X ada 11 kelas, kelas XI ada 10 kelas, dan kelas XII ada 9 kelas).

Selama kurun waktu 30 tahun (sampai dengan ditulisnya buku ini), SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo telah mengalami tiga kali masa kepemimpinan sekolah, yaitu : (a) masa kepemimpinan Drs. H. Ahmad Thobari (1976 - 1986), (b) masa kepemimpinan Drs. H. Abubakar Ahmad (1986 - 1998), dan masa kepemimpinan H. Abdullah Hasan, S.Ag (1998 - sekarang). Dari tiga kali masa kepemimpinan ini, di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo telah terjadi usaha pengembangan dan pembaharuan (develop and reform) diberbagai bidang, baik sarana prasarana sekolah, kurikulum pendidikan dan pembelajaran, maupun sumber daya pelaksananya. Berbagai langkah nil yang dilakukan, diarahkan untuk menjadikan SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo sebagai lembaga pendidikan-sekolah yang sebenarnya (the real school - SMAMDA), yang membangun tradisi keilmuan dan spiritualitas keislaman, sehingga dapat mengantarkan civitas academic (warga sekolah) menjadi manusia yang berkualitas unggul, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT., menguasai ilmu pengetahuan, memiliki kecakapan hidup (life skill) sekaligus mempunyai akhlaq yang luhur, santun, dan sholeh.

Dari usaha melakukan pengembangan dan pembaharuan (develop and reform) di berbagai bidang itu, berdasarkan penjenjangan akreditasi yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 1996 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo terakreditasi DISAMA.KAN. Dengan pengembangan dan pembaharuan (develop and reform) yang dilakukan secara terus-menerus serta didapatnya status DISAMAKAN, maka perkembangan minat siswa dan orang tua untuk masuk di (memasukkan anaknya ke) SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan, bahkan dalam 5 tahun terakhir persentase siswa lulusan SLTP -MTs yang tidak tertampung di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo semakin meingkat. Ini terjadi karena di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo menerapkan sistim seleksi dalam PSB (penerimaan siswa baru). Rata-rata jumlah siswa yang diterima setiap tahun pelajaran berkisar antara 50% - 60% dari jumlah siswa yang mendaftar. Pada tahun pelajaran 2005 - 2006 jumlah siswa baru yang diterima sebanyak 412 siswa dan pada tahun pelajaran 2006 - 2007 ini direncanakan menerima 440 siswa. Pada tahun pelajaran 2005 - 2006 di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo dilakukan perubahan dan pembaharuan kurikulum dalam rangka peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikannya. Dalam hal kurikulum, penerapan kurikulum berbasis kompetensi (competency based of curriculum) untuk kelas X dan kelas XI dengan pendekatan multiple intelligence system (MIS), sebuah model pembelajaran yang berusaha untuk mengembangkan kecerdasan majemuk (multiple intelligence) yang dimiliki oleh siswa – dari sisi pembelajarannya ada kesesuaian antara gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Program ini dirancang bekerja sama dengan sebuah lembaga konsultan pendidikan Mi -21. Pada tahun pelajaran 2005 - 2006 ini pula SMAMDA telah mengikuti akreditasi ulang, dan dari hasil penilaian Badan Akreditasi Sekolah (BAS) Propinsi Jawa Timur SMAMDA mendapatkankan nilai 95,73 serta telah mendapatkan Surat Keputusan dari BAS Jatim yang menyatakan bahwa SMAMDA mendapatkan status TERAKREDITASI A.

Kini SMAMDA sedang mempersiapkan diri melompat menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, yang Insyaallah dimulai pada tahun pelajaran 2009/2010

Selasa, 05 Januari 2010

Hukum Berjabat Tangan dengan Ghoiru Muhrim



A. Tidak Boleh
Menurut jumhur ulama’ hukum berjabat tangan antara laki-laki dengan wanita lain (ghoiru muhrim) adalah tidak diperbolehkan, dengan alasan keterangan dari Siti Aisyah ra. Bahwasanya Rasulullah saw. tidak pernah sama sekali berjabat tangan dengan perempuan kecuali dengan istri dan putri beliau. diterangkan dalam kitab Hasiyah as-Showi ala Syarhi as-Shaghir juz 11 hal.279.
قَوْلُهُ : [ وَلاَ تَجُوزُ مُصَافَحَةُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ ] : أَيْ الْأَجْنَبِيَّةَ وَإِنَّمَا الْمُسْتَحْسَنُ الْمُصَافَحَةُ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ لَا بَيْنَ رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ ،
keterangan di dalam kitab as-Sunan al-Kubra li an-nasa’i juz 5 hal 393
أَخْبَرَناَ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَ أَخْبَرَ ناَ عَبْدُ الرَّزَّاقْ عَنْ مُعَمَّرْ عَنِ الزُّهْرِيْ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قالت مَا مَسَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَ امْرَأَةٍ قَطٌّ إِلاَّ امْرَأَةً يَمْلِكُهَا
B. Makruh
Hukum berjabat tangan antara orang laki-laki dengan perempuan lain menurut riwayat Ibnu Mansur secara mutlak adalah dihukumi makruh
( وَلَا تَجُوزُ مُصَافَحَةُ الْمَرْأَةِ الْأَجْنَبِيَّةِ الشَّابَّةِ ) لِأَنَّهَا شَرٌّ مِنْ النَّظَرِ ، أَمَّا الْعَجُوزُ فَلِلرَّجُلِ مُصَافَحَتهَا عَلَى مَا ذَكَرَهُ فِي الْفُصُولِ وَالرِّعَايَةِ وَأَطْلَقَ فِي رِوَايَةِ ابْنِ مَنْصُورٍ : تُكْرَهُ مُصَافَحَةُ النِّسَاءِ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنُ مِهْرَانَ : سُئِلَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ عَنْ الرَّجُلِ يُصَافِحُ الْمَرْأَةَ قَالَ : لَا ، وَشَدَّدَ فِيهِ جِدًّا قُلْت : فَيُصَافِحهَا بِثَوْبِهِ قَالَ : لَا قَالَ رَجُلٌ : فَإِنْ كَانَ ذَا رَحِمٍ قَالَ : لَا قُلْت : ابْنَتُهُ قَالَ : إذَا كَانَتْ ابْنَتُهُ فَلَا بَأْسَ وَالتَّحْرِيمُ مُطْلَقًا اخْتِيَارُ الشَّيْخِ تَقِيِّ الدِّينِ وَيَتَوَجَّهُ التَّفْصِيلُ بَيْنَ الْمُحَرَّمِ وَغَيْرِهِ ، فَأَمَّا الْوَالِدُ فَيَجُوزُ قَالَهُ فِي الْآدَابِ .
Keterangan kitab Kasyfu al-Qona’ ‘an matan al-Iqna’ juz 4 hal.467. dan juga dijelaskan dalam kitab al-Adab as-Syar’iyah juz 2 hal. 360.
C. Boleh
Menurut Imam al-Adzro’i “orang laki-laki boleh memijit paha teman laki-lakinya dengan syarat menggunakan tirai/tabir, dan aman dari fitnah. Dan dari pendapat Imam al-adzro’i itulah diambil hukum bahwa berjabat tangan antara kaum lelaki dengan perempuan lain adalah boleh dengan syarat dengan adanya hajat (untuk penghormatan), dan harus menggunakan tirai/satir walaupun sudah aman dari fitnah dan sudah tidak adanya syahwat. Diterangkan dalam Tukhfah al-Mukhtaj fi Syarkhi al-Minhaj juz 29 hal.239. versi Maktabah Syamilah
( وَيَحِلُّ نَظَرُ رَجُلٍ إلَى رَجُلٍ ) مَعَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ بِلَا شَهْوَةٍ اتِّفَاقًا ( إلَّا مَا بَيْنَ سُرَّةٍ وَرُكْبَةٍ ) وَنَفْسِهِمَا كَمَا مَرَّ فَيَحْرُمُ نَظَرُهُ مُطْلَقًا وَلَوْ مِنْ مَحْرَمٍ ؛ لِأَنَّهُ عَوْرَةٌ قَالَ الْأَذْرَعِيُّ وَالظَّاهِرُ أَنَّ الْمُرَاهِقَ كَالْبَالِغِ نَاظِرًا أَوْ مَنْظُورًا، وَيَجُوزُ لِلرَّجُلِ دَلْكُ فَخِذِ الرَّجُلِ بِشَرْطِ حَائِلٍ وَأَمْنِ فِتْنَةٍ وَأُخِذَ مِنْهُ حِلُّ مُصَافَحَةِ الْأَجْنَبِيَّةِ مَعَ ذَيْنِك وَأَفْهَمَ تَخْصِيصُهُ الْحِلَّ مَعَهُمَا بِالْمُصَافَحَةِ حُرْمَةَ مَسِّ غَيْرِ وَجْهِهَا وَكَفَّيْهَا مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ وَلَوْ مَعَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ وَعَدَمِ الشَّهْوَةِ وَعَلَيْهِ فَيُوَجَّهُ بِأَنَّهُ مَظِنَّةٌ لِأَحَدِهِمَا كَالنَّظَرِ وَحِينَئِذٍ فَيَلْحَقُ بِهَا الْأَمْرَدُ فِي ذَلِكَ وَيُؤَيِّدُهُ إطْلَاقُهُمْ حُرْمَةَ مُعَانَقَتِهِ الشَّامِلَةِ لِكَوْنِهَا مِنْ وَرَاءِ حَائِلٍ
Dalam kitab Syarhu an-Nail Wasyifaul ‘alil juz 9 hal 436 dijelaskan bahwa Rasulullah bersabda “Barang siapa berjabat tangan dengan orang yang alim maka fadhilahnya adalah seperti berjabat tangan denganku (Rasulullah)” dan dari situ diperbolehkan berjabat tangan kepada para alim bagi yang meyakini sabda Rasulullah itu walaupun seorang perempuan, bocah atau budak.
فَصْلٌ ” لَا تَفْتَرِقُ كَفَّا مُتَصَافِحَيْنِ فِي اللَّهِ حَتَّى تَتَنَاثَرَ ذُنُوبُهُمَا كَالْوَرَقِ ” رُوِيَ ذَلِكَ ، وَأَنَّهُ ” مَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا صَافَحَنِي ” ، وَجَازَتْ مُصَافَحَةُ مُوَحِّدٍ وَإِنْ أُنْثَى أَوْ صَغِيرًا ، أَوْ رَقِيقًا إنْ لَمْ يَكُنْ كَبَاغٍ .
Dari paparan di atas tercermin bahwa perbedaan pendapat itu wajib bagi kita, bukan hanya ulama’ saja yang berbeda pendapat, Nabi Musa dengan Nabi khidzir juga berbeda pendapat kok, sampai-sampai Allah mengabadikan kisahnya di dalam al-Qur’an (lihat al-Qur’an surah al-Kahfi ayat 60 s/d 82 juz 16), agar kita bisa mengambil gambaran dan contoh dari cerita tersebut bahwa perbedaan itu tidak bisa dihindari dan dihilangkan.
Oleh karena itu marilah kita saling menghormati dan menghargai suatu perbedaan, kita utamakan saling mengevaluasi diri sendiri sebelum mengevaluasi orang lain, sudah bisakah kita menghargai orang lain?, kalau belum marilah kita bersama-sama belajar untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan diantara kita, sehingga suatu perbedaan tersebut bisa menjadi suatu keharmonisan dan membawa nikmat dan juga rahmah yang indah bagi kita. Karena sudah dikatakan dalam kitab Hasiyah al-Bujairomi juz 9 hal 71.
اِ خْـتِـلاَ فُ اْلـعُـلـَمـَاءِ رَحْـمَـةٌ
PERBEDAAN ULAMA’ ITU ADALAH RAHMAT

Berjabat Tangan Dengan Lawan Jenis



Banyak hal dalam keseharian kita yang mesti dikoreksi. Karena ada di antara kebiasaan yang lazim berlaku di tengah masyarakat kita namun sesungguhnya menyimpang dari syariat. Berjabat tangan dengan lawan jenis adalah contohnya. Praktik ini tersuburkan dengan minimnya keteladanan dari mereka yang selama ini disebut tokoh agama.

Kapan kita memiliki kesalahan maka segera meminta maaf, dan kapan kita bertemu dengan saudara kita maka kita mengucapkan salam dan berjabat tangan.
Berjabat tangan yang dalam bahasa Arab disebut dengan mushafahah memang perkara yang ma’ruf, sebuah kebaikan. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ، تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ
“Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin yang lain, lalu ia mengucapkan salam dan mengambil tangannya untuk menjabatnya, maka akan berguguran kesalahan-kesalahan keduanya sebagaimana bergugurannya daun-daun pepohonan.” (HR. Al-Mundziri dalam At-Targhib 3/270, Al-Haitsami dalam Al-Majma’ 8/36, lihat Ash-Shahihah no. 526)
Amalan yang pertama kali dicontohkan oleh ahlul Yaman (penduduk Yaman)3 kepada penduduk Madinah ini biasa dilakukan di tengah masyarakat kita. Kata shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu:
مِنْ تَمَامِ التَّحِيَّةِ أَنْ تُصَافِحَ أَخَاكَ
“Termasuk kesempurnaan tahiyyah (ucapan salam) adalah engkau menjabat tangan saudaramu.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 968, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad menyatakan: Sanadnya shahih secara mauquf)
Berjabat tangan telah jelas kebaikannya. Namun bagaimana kalau laki-laki dan perempuan yang bukan mahram saling berjabat tangan, apakah suatu kebaikan pula? Tentu saja tidak!!! Walaupun menurut perasaan masyarakat kita, tidaklah beradab dan tidak punya tata krama sopan santun, bila seorang wanita diulurkan tangan oleh seorang lelaki dari kalangan karib kerabatnya, lalu ia menolak untuk menjabatnya. Dan mungkin lelaki yang uluran tangannya di-”tampik” itu akan tersinggung berat. Sebutan yang jelek pun akan disematkan pada si wanita. Padahal si wanita yang menolak berjabat tangan tersebut melakukan hal itu karena tahu tentang hukum berjabat tangan dengan laki-laki yang bukan mahramnya.
Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai qudwah kita, tak pernah mencontohkan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Bahkan beliau mengharamkan seorang lelaki menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Beliau pernah bersabda:
لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ
“Kepala salah seorang ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 20/210 dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, lihat Ash-Shahihah no. 226)
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata, “Dalam hadits ini ada ancaman yang keras bagi lelaki yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Dan juga merupakan dalil haramnya berjabat tangan dengan para wanita, karena jabat tangan tanpa diragukan masuk dalam pengertian menyentuh. Sungguh kebanyakan kaum muslimin di zaman ini ditimpa musibah dengan kebiasaan berjabat tangan dengan wanita (dianggap sesuatu yang lazim, bukan suatu kemungkaran, -pent.). Di kalangan mereka ada sebagian ahlul ilmi, seandainya mereka mengingkari hal itu hanya di dalam hati saja, niscaya sebagian perkaranya akan menjadi ringan, namun ternyata mereka menganggap halal berjabat tangan tersebut dengan beragam jalan dan takwil. Telah sampai berita kepada kami ada seorang tokoh besar di Al-Azhar berjabat tangan dengan para wanita dan disaksikan oleh sebagian mereka. Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita sampaikan pengaduan dengan asingnya ajaran Islam ini di tengah pemeluknya sendiri. Bahkan sebagian organisasi-organisasi Islam berpendapat bolehnya jabat tangan tersebut. Mereka berargumen dengan apa yang tidak pantas dijadikan dalil, dengan berpaling dari hadits ini4 dan hadits-hadits lain yang secara jelas menunjukkan tidak disyariatkan jabat tangan dengan kaum wanita non-mahram.” (Ash-Shahihah, 1/448-449)
Dalam membaiat para shahabiyyah sekalipun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjabat tangan mereka5. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَمْتَحِنُ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ بِهَذِهِ اْلآيَةِ بِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى {ياَ أيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ} إِلَى قَوْلِهِ {غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ} قَالَ عُرْوَةُ: قَالَتْ عَائِشَةُ: فَمَنْ أَقَرَّ بِهَذَا الشَّرْطِ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ، قَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ باَيَعْتُكِ؛ كَلاَمًا، وَلاَ وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُهُ يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ فِي الْمُبَايَعَةِ، مَا يبُاَيِعُهُنَّ إِلاَّ بِقَوْلِهِ: قَدْ باَيَعْتُكِ عَلَى ذَلِكَ
Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji kaum mukminat yang berhijrah kepada beliau dengan firman Allah ta’ala: “Wahai Nabi, apabila datang kepadamu wanita-wanita yang beriman untuk membaiatmu….” Sampai pada firman-Nya: “Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” Urwah berkata, “Aisyah mengatakan: ‘Siapa di antara wanita-wanita yang beriman itu mau menetapkan syarat yang disebutkan dalam ayat tersebut’.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepadanya, “Sungguh aku telah membaiatmu”, beliau nyatakan dengan ucapan (tanpa jabat tangan).” ‘Aisyah berkata, “Tidak, demi Allah! Tangan beliau tidak pernah sama sekali menyentuh tangan seorang wanita pun dalam pembaiatan. Tidaklah beliau membaiat mereka kecuali hanya dengan ucapan, “Sungguh aku telah membaiatmu atas hal tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 4891 dan Muslim no. 4811)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaiat mereka hanya dengan mengucapkan “Sungguh aku telah membaiatmu”, tanpa beliau menjabat tangan wanita tersebut sebagaimana kebiasaan yang berlangsung pada pembaiatan kaum lelaki dengan menjabat tangan mereka.” (Fathul Bari, 8/811)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan tidak bolehnya menyentuh kulit wanita ajnabiyyah (non mahram) tanpa keperluan darurat, seperti karena pengobatan dan hal lainnya bila memang tidak didapatkan dokter wanita yang bisa menanganinya. Karena keadaan darurat, seorang wanita boleh berobat kepada dokter laki-laki ajnabi (bukan mahram si wanita). (Al-Minhaj, 13/14)
Umaimah bintu Ruqaiqah berkata: “Aku bersama rombongan para wanita mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membaiat beliau dalam Islam. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami membaiatmu bahwa kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak akan mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak melakukan perbuatan buhtan yang kami ada-adakan di antara tangan dan kaki kami, serta kami tidak akan bermaksiat kepadamu dalam perkara kebaikan.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesuai yang kalian mampu dan sanggupi.” Umaimah berkata, “Kami berucap, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih sayang kepada kami daripada sayangnya kami kepada diri-diri kami. Marilah, kami akan membaiatmu6 wahai Rasulullah!’.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata:
إِنِّي لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ، إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ
“Sesungguhnya aku tidak mau berjabat tangan dengan kaum wanita. Hanyalah ucapanku kepada seratus wanita seperti ucapanku kepada seorang wanita.” (HR. Malik 2/982/2, An-Nasa`i dalam ‘Isyratun Nisa` dari As-Sunan Al-Kubra 2/93/2, At-Tirmidzi, dll. Lihat Ash-Shahihah no. 529)
Dari hadits-hadits yang telah disebutkan di atas, jelaslah larangan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram. Karena seorang lelaki haram hukumnya menyentuh atau bersentuhan dengan wanita yang tidak halal baginya. Al-Imam Asy-Syinqinthi rahimahullahu berkata, “Tidaklah diragukan bahwa sentuhan tubuh dengan tubuh lebih kuat dalam membangkitkan hasrat laki-laki terhadap wanita, dan merupakan pendorong yang paling kuat kepada fitnah daripada sekedar memandang dengan mata.7 Dan setiap orang yang adil/mau berlaku jujur akan mengetahui kebenaran hal itu.” (Adhwa`ul Bayan, 6/603)
Sebagian orang bila ingin berjabat tangan dengan wanita ajnabiyyah atau seorang wanita ingin berjabat tangan dengan lelaki ajnabi, ia meletakkan penghalang di atas tangannya berupa kain, kaos tangan dan semisalnya. Seolah maksud dari larangan jabat tangan dengan ajnabi hanyalah bila kulit bertemu dengan kulit, adapun bila ada penghalang tidaklah terlarang. Anggapan seperti ini jelas batilnya, karena dalil yang ada mencakupinya dan sebab pelarangan jabat tangan dengan ajnabi tetap didapatkan meski berjabat tangan memakai penghalang.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu berkata, “Tidak boleh berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, baik si wanita masih muda ataupun sudah tua. Dan sama saja baik yang menjabatnya itu anak muda atau kakek tua, karena adanya bahaya fitnah (ujian/cobaan) yang bisa didapatkan oleh masing-masingnya.”
Asy-Syaikh juga berkata, “Tidak ada bedanya baik jabat tangan itu dilakukan dengan ataupun tanpa penghalang, karena keumuman dalil yang ada. Juga dalam rangka menutup celah-celah yang mengantarkan kepada fitnah (ujian/cobaan).”
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu mengatakan, “Segala sesuatu yang menyebabkan fitnah (godaan) di antara laki-laki dan perempuan hukumnya haram, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita.”
Tidaklah diragukan bahwa bersentuhannya kulit laki-laki dengan kulit perempuan akan menimbulkan fitnah. Kalaupun ada yang tidak terfitnah maka itu jarang sekali, sementara sesuatu yang jarang terjadinya tidak ada hukumnya sebagaimana dinyatakan oleh ahlul ilmi. Sungguh ahlul ilmi telah menulis permasalahan ini dan mereka menerangkan tidak halalnya laki-laki berjabat tangan dengan wanita ajnabiyah. Inilah kebenaran dalam masalah ini. Berjabat tangan dengan non mahram adalah perkara yang terlarang, baik dengan pengalas atau tanpa pengalas.”
Beliau juga mengatakan, “Secara umum, tergeraknya syahwat disebabkan sentuhan kulit dengan kulit lebih kuat daripada sekedar melihat dengan pandangan mata/tidak menyentuh. Bila seorang lelaki tidak dibolehkan memandang telapak tangan wanita yang bukan mahramnya, lalu bagaimana dibolehkan ia menggenggam telapak tangan tersebut?” (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, 2/541-543)
Demikian masalah hukum berjabat tangan antara lelaki dan wanita yang bukan mahram.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Ucapan selamat pada hari Id ini pernah ditanyakan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu sebagaimana dalam Majmu’ Al-Fatawa (24/253). Beliau menjawab, “Tidak ada asalnya dalam syariat. Telah diriwayatkan dari sekelompok shahabat bahwa mereka melakukannya. Sebagian imam memberi rukhshah untuk melakukannya seperti Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan selainnya. Akan tetapi Al-Imam Ahmad rahimahullahu berkata, ‘Aku tidak memulai mengucapkannya kepada seseorang. Namun bila ada yang lebih dahulu mengucapkannya kepadaku, aku pun menjawabnya karena menjawab tahiyyah itu wajib.’ Adapun memulai mengucapkan tahni`ah bukanlah sunnah yang diperintahkan dan juga tidak dilarang. Siapa yang melakukannya maka ia punya contoh dan siapa yang meninggalkannya maka ia punya contoh.”
Yang dimaksudkan tahiyyah oleh Imam Ahmad rahimahullahu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوْهَا
“Dan apabila kalian diberi ucapan salam penghormatan maka jawablah dengan yang lebih baik darinya atau balaslah dengan yang semisalnya.” (An-Nisa`: 86)
2 Saling mengunjungi saat hari raya dan berjabat tangan ketika berjumpa di hari raya, demikian pula saling mengucapkan selamat, bukanlah perkara yang disyariatkan bagi pria maupun wanita. Namun demikian, hukumnya tidak sampai bid’ah. Terkecuali bila pelakunya menganggap hal itu sebagai taqarrub (ibadah yang dapat mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , barulah sampai pada bid’ah karena hal itu tidak pernah dilakukan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Nashihati lin Nisa`, Ummu Abdillah bintu Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullahu, hal. 124)
3 Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
لَماَّ جاَءَ أَهْلُ الْيَمَنِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ أَقْبَلَ أَهْلُ الْيَمَنِ وَهُمْ أَرَقُّ قُلُوْبًا مِنْكُمْ، فَهُمْ أَوَّلُ مَنْ جَاءَ بِالْمُصَافَحَةِ
Tatkala datang ahlul Yaman, berkatalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh telah datang ahlul Yaman, mereka adalah orang-orang yang paling halus/lembut hatinya daripada kalian.” (Kata Anas): “Mereka inilah yang pertama kali datang membawa mushafahah (adat berjabat tangan).” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 967, lihat Shahih Al-Adabil Mufrad dan Ash-Shahihah no. 527)
4 Hadits Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan di atas.
5 Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad (2/213) dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كَانَ لاَ يُصَافِحُ النِّسَاءَ فِي الْبَيْعَةِ
“Beliau tidak menjabat tangan para wanita dalam baiat.” (Dihasankan sanadnya oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 530)
6 Dijelaskan oleh Sufyan bahwa maksud mereka adalah, “Marilah engkau menjabat tangan kami.” Dalam riwayat Ahmad disebutkan dengan lafadz:
قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَلاَ تُصَافِحُنَا؟
“Kami katakan, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjabat tangan kami?’.”
7 Sementara memandang wanita yang bukan mahram dengan sengaja adalah perkara yang dilarang dalam syariat. Bila demikian, tentunya lebih terlarang lagi bila lebih dari sekedar memandang.

Sabtu, 24 Oktober 2009

Shopwiki.com | Gadget Para Pecinta Alam




Woww..Kabar gembira nih buat para pecinta alam yang suka berpetulang, camping dan hiking. Sekarang kamu-kamu bisa mendapatkan gadget barang-barang yang kamu butuhkan untuk berpetualang menjelajahi alam. Yaps..kamu dapat membeli gadget-gadget yang kamu butuhkan di www.shopwiki.com.



Di situs itu tersedia lengkap berbagai macam alat-alat atau gadget yang kamu butuhkan untuk camping maupun hiking. Misalnya Sleeping Bags, sepatu hiking, ransel khusus camping, GPS, kompas dan gadget-gadget lainnya yang mendukung petualangamu di alam tercinta.

Di situs tersebut tidak hanya menawarkan produk untuk lelaki saja, namun buat para cewek-cewek yang suka berpetualang, web situs tersebut juga menyediakannya. Contohnya jaket/switer yang berwarna pink dan banyak lainnya.

Jadi buat kamu yang seneng dengan petualangan, tidak ada salahnya dapat melihat-lihat atau sekedar ingin tahu berbagai alat maupun gadget-gadget baru bisa langsung aja ke situs www.shopwiki.com.

Jumat, 02 Oktober 2009

عيد الفطر


هناك نوعان من العطلات التي تعتبر مشروعة في الإسلام ، وعيد الفطر وعيد الأضحى. في حين أن أيام من المسلمين العاديين الذين يحتفل به المسلمين الاندونيسيين كما احتفالات رأس السنة الهجرية ، الإسراء والصعود ، Maulid النبي ، وNuzulul القرآن هو يوم العيد "الثقافة الإسلامية" ، وليس في أيام العطل "دين الإسلام".
اذا كان الاميركيون يعرفون ان هناك احتفالات عيد الشكر الذي يحتفل به كل عام في يوم الخميس الرابع من تشرين الثاني / نوفمبر من جانب شعب هذا البلد للاستمتاع والمرح أشكر الرب مع عائلتك ، ثم هناك احتفالات في إندونيسيا ، "العيد" ، والذي طلب من الذهاب إلى المنزل شعب اندونيسيا شجعت بقوة لتلبية الأسرة ، وبين الأب والأم ، والأقارب يتم تعبئتها في Silaturrahim الثقافة وثنائية الحلال حلال.
معنى عيد الفطر
عيد يتكون من كلمة 'عيد الفطر. كلمة 'معرف مشتقة من الجذر نفسه مع عبارة' العودة) أو 'awdatun ،' عاداه أو 'aadatun وisti'aadatun. جميع هذه الكلمات تحتوي على المعنى الأصلي من "العودة" أو "متكررة". جملة الاندونيسية "الجمارك" مستعارة من اللغة العربية 'isti'aadatun aadat وا الذي يعني أنه شيء لا يحدث دائما ، ويتوقع أن يستمر ليعيد نفسه ، وهما كما" العرف ". في اللغة العربية ، وأيام العطل المقصود 'معرف ، لأنه كان دائما يعود مرة أخرى ومرة أخرى بصفة دورية كل عام.
بينما الفطر هو جذر واحد مع القاعدة النصوص fihtrah ، التي تعني "مقدس أصل الحدث" أو "النقاء الأصلي". في اللغة ، fithrah مرادفا khilqah ، وإنشاء أو خلق. الله الخالق هو معنى كلمة أو القاعدة الخالق الفاتر. في هذه العملية ، والقاعدة على المدى fithrah ويعني "خلق نقية". في هذا المعنى ، كلمة نورشوليش مجيد (2000) ، وجميع جوانب الحياة مثل الأكل والشرب والنوم وما هو معقول ، دون مبالغة ، في البشر والإنسانية هي fithrah. كل هذا الخير ، وقيمة القداسة لأنه يأتي من الله خلق التصميم. لذا ، من المفطرات أو "الأكل والشرب مرة أخرى" بعد الصيام كما دعا ifthar ، والتي تعني حرفيا "لمواجهة طبيعة" ونقية وجيدة. وبعبارة أخرى ، الأكل والشرب هو جيد ومعقول في البشر ، هو جزء من طابع مقدس. من هذا المنطلق يمكن فهم لماذا الاسلام لا يقبل الناس الذين يحاولون قيادة حياة المقدسة من ترك الامور على تناول الطعام العادي والشرب والنوم والزواج وهكذا دواليك. في التاريخ الحديث من القاعدة السليمة البخاري ومسلم أنه ذكر أن النبي قال : "سمعت أنك (عبدالله بن عمرو بن و) الصوم خلال النهار وحتى يصلي دائما في الليل؟ صحيح ، يا رسول الله. ثم انه ذكر من قبل بقوله : "لا تفعل ذلك ، وبسرعة ، والأكل والنوم والاستيقاظ لصلاة الليل ، وذلك لأن هناك فعلا هو حق لجسمك ، لكلتا العينين هو الحق ، هو حق الزوجة والضيوف أيضا الحق". هذا الحديث يوضح أن جميع الإجراءات الإنسان يغادرون عدالة الحياة البشرية هو عمل ضد الطبيعة.
خروجا على فهم معنى العيد ، احتفالات العيد ، بعد أن الصيام خلال شهر رمضان ، يعني العودة الى جوهر الطبيعية للإنسان والإنسانية ، وهو أمر معقول لتلبية احتياجات الأكل والشرب حتى عودة الانسان الى الطبيعة بمعناها الله mentauhidkan وأردت فقط أن فعل الخير والحق.
تتعلق بطبيعة تستقيم ، التي هي سمة من الناس الذين يميلون إلى جنب مع الخير والحقيقة. فقال النبي :
البر مااطمأن إليه القلب ، واطمأنت إليه النفس ، والإثم ما حاك في القلب ، وتردد في الصدر
لطف شيء يجعل القلب والروح لأشعر بالهدوء ، بينما الخطيئة شيء أن يجعل قلبك ويثير شكوكا لا يهدأ في صدره (رواه أحمد وغيرهم. الشيخ الألباني يعتبر هذا الحديث حسنه)
الحديث يوضح أن الإثم هو عمل مناف للضمير ، وليس وفقا لطبيعة مقدسة. ولذلك ، يمكن أن العيد يعني العودة إلى الضمير ، والتي لا تميل الى الخير والحق وفقا للطبيعة. وهذا الوضع يمكن أن يتحقق إلا من قبل الأشخاص الذين تدربوا في الواقع نفسه على الصيام خلال شهر رمضان. فقال النبي :
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
أحد الذين يؤدون الصوم على أساس الإيمان وحساب ، ثم يغفر له ذنوبه التي تم تمريرها (رواه البخاري ومسلم)
عيد الفطر يعني العودة إلى القداسة. النقاء ، وقال قريش شهاب (1992) ، هو مزيج من ثلاثة عناصر هي : صحيح وحسن وجميل. وبالتالي ، الشخص الذي كان في عيد الفطر في العودة "إلى القداسة" سوف تفعل دائما ما هو جميل وجيد وصحيح. حتى من خلال طهرها ، فإنه سوف ننظر في كل شيء مع نظرة مستقبلية إيجابية. انه سوف يبحث دائما عن جوانب من الخير ، والجمال الحقيقي. يبحث عن تقديم الفن الجميل ، وتبحث عن سبب وجيه وتسعى الأخلاقية yanag السبب الحقيقي للعلم. مع هذا الرأي ، فإنه يغمض عينيه عن الأخطاء ، القبح والشر للآخرين. حتى لو كان يبدو ، ودائما يبحث عن القيم الإيجابية في المواقف السلبية. وإذا لم يتم العثور عليه ، من شأنه أن يعطيه ذريعة جيدة لتفعل حتى لأولئك الذين يخطئون.
بمناسبة عيد الفطر

العيد هو يوم العطلة لدى المسلمين بعد صيام الشهر كله تنفيذ. عيد الفطر وسيلة للعودة الى النقاء (الطبيعة). كل شخص مسلم الذي انتهت مدة شهر الصوم مع الإيمان الأساسية ، وحساب ، وسوف يحصل على عفو عن الخطايا التي تم القيام به ، وكأنه طفل حديث الولادة من رحم والدته. (رواه البخاري ومسلم).
لتكبير وسطع في اجواء العيد ، disunnahkan :
أولا ، والربو تمجيد الله من خلال تنفيذ "takbiran" ، وتفسير أي صدى ، Tahmid وtaqdis ، ابتداء من غروب شمس يوم في الليل ليصلي iduli المجاهدين المجاهدين iduli تنفيذها ؛ سبيل المثال من التاريخ وفقا لتفسير نطق عمر وابن مسعود (اقرأ Sabiq السيد ، فقه القاعدة السنة ، I/275) هو كما يلي :
ألله اكبر ألله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
الله أكبر الله أكبر ، لا إله إلا الله ، الله أكبر الله أكبر. والحمد لله ل

الثانية ، في الوقت عيد الفطر في sunnahkan تفعل الأمور التالية : (أ). حمام كبيرة ، قبل صلاة العيد ، (ب). الملابس جيد مع الحلو ومهذبا ، Haruman ، (ج). Sekedarnya تأكل وتشرب قبل الذهاب الى مكان صلاة العيد ، باعتباره إشارة إلى أن اليوم لم يكن الصوم ؛ د). رحلة إلى مكان للصلاة ، وصلاة الظهر من خلال مسارا مختلفا ، ه). دورتي السنة صلاة العيد في جماعة في هذا الميدان ؛ و). عقدت Silaturrahim (حلال حلال ثنائية) بين بعضها البعض ، وبعد صلاة العيد. وخلال اجتماعه مع واحد آخر من المستحسن أن نقول :
تقبل الله منا ومنكم
"كان من دواعي سرور وفقكم الله لقبول أفعالنا"
(Sabiq ، Fiqhus السنة ، المجلد الأول ، و 274 ، وانظر أيضا الألباني ، Tamamul المنة (335)

عيد الفطر وثنائية الحلال حلال

ثنائية الحلال حلال هو التقليد الذي تكمن جذوره في هذا البلد. إعدام عادي بعد أداء صلاة العيد ، أو في جو من Lebaran. جوهر أنشطة ثنائية الحلال حلال على قدم المساواة مع Silaturrahim.
إذا ما نظر إليها من أصل مصطلح ثنائية الحلال حلال ، ليست موجودة في القرآن الكريم و آل الحديث. حتى في القاموس العربي لا يوجد أي كلمة ثنائية الحلال حلال.
في قاموس الاندونيسية العظمى التي نشرتها بالاى Pustaka هي المعلومات التي يتم حلال اعتذار bihalal برنامج الغفران يوم Lebaran. على هذا الأساس ، bihalal أغراض مشروعة وفقا للمصطلح الاندونيسية هو خلق جو من التسامح المتبادل بين بعضهم البعض (MOEC المؤلف فريق العظمى من قاموس اللغة الاندونيسية ، 1989 ص ، 293).
على أساس الغرض من تنفيذ هذه حلال حلال بين الطائفتين ، وهناك من العلماء الذين حاولوا جعل التعرف على أصل مصطلح من هذا حلال حلال بين الطائفتين. ووفقا له ، فإن مصطلح ثنائية الحلال حلال وربما مشتقة من قول النبي قوله هو الذي رواه الإمام البخاري على النحو التالي :
من كانت عنده مظلمة لأخيه فى عرضه أو شيئ
فليتحلله منه اليوم (رواه البخارى)
"كل من لا الاضطهاد (أخطاء) الآخرين ، وإما الشرف أو غيرها ، ثم عند هذه النقطة يجب أن نسأل أيضا مشروعة / معذور". (رواه البخاري)

في هذه التقاليد هناك جملة العربية "يحفظون yatahallalhu" ، وهو ما يعني قانونية أو ينبغي أن نطلب الصفح. هذه الكلمات هي التي اتخذتها وتيرة رجل الدين الاندونيسي مرة واحدة من أجل خلق لحظة واحدة فيها مع أشخاص آخرين يمكن أن يغفر كل منهما الآخر. مصطلح حلال بعضها البعض ومن ثم جلب بالقرب من تبرير لقواعد اللغة العربية لتصبح ثنائية الحلال حلال. وبالتالي ، حلال حلال ثنائية ليست كلمة من العربية الأصلية ، ولكن التي وضعت عمدا من جانب رجل الدين الاندونيسي باستخدام المفردات العربية.
أوامر الفعلية لكوشير تبرير بعضها البعض أو اعتذار ، الصفح بين بعضها البعض ، ليس فقط خلال Lebaran أو عيد الفطر في الغلاف الجوي ، ولكن أيضا تطبيق في كل وقت ، في أي وقت وفي أي مكان when've ارتكب خطأ أو الإساءة للآخرين . الإمام الكحلاني San'ani في كتابه "حي السلام (سبل" وقال انه بناء على الحديث الذي رواه الإمام البخاري انه يظهر "القاعدة wujub - istihlal" ، أي واجب الاعتذار لأولئك الذين didzalimi.
وضعت حول الحدث مرتين حلال حلال على الغلاف الجوي أو Lebaran اجواء عيد الفطر ، وهذا له علاقة مع الممارسات الصيام. دليلا واحدا لشخص ناجح يفعل الصوم هو بروز موقف إيجابي أو شخصية ، من بينها وليس تسامحا مع الآخرين. كذلك ، عن طريق القيام بما ثنائية الحلال حلال الصفح بين بعضها البعض ، فمن المتوقع أن يكون دليلا واحدا لنجاح الصيام الدينية. الناس ، الله على استعداد ، وهذا في الحقيقة سوف يكون قادرا على التمتع بالطبيعة لعيد الفطر.
والله أعلم!
> تبديل اللغة